Bunker Kaliadem: Saksi Bisu Tragedi Erupsi Merapi 2006

Bunker Kaliadem, sebuah struktur perlindungan yang ironisnya justru menjadi kuburan bagi dua relawan pada tragedi erupsi 14 Juni 2006.

Maildickys

12/7/20251 min read

a sign that says, 'Bunker Kaliadem'.
a sign that says, 'Bunker Kaliadem'.

Bunker Kaliadem

Di lereng selatan Gunung Merapi, hanya 4,5 kilometer dari puncak gunung berapi paling aktif di Indonesia, berdiri sebuah bangunan beton yang menyimpan kisah pilu. Namanya Bunker Kaliadem, sebuah struktur perlindungan yang ironisnya justru menjadi kuburan bagi dua relawan pada tragedi erupsi 14 Juni 2006.

Bangunan yang Lahir dari Kekhawatiran

Bunker Kaliadem dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sekitar tahun 2000-2001, dirancang sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan pengunjung kawasan Kaliadem ketika Merapi meletus. Dengan ukuran 12 x 8 meter dan dinding beton setebal 25 sentimeter, bunker ini seharusnya menjadi benteng terakhir saat bahaya datang.

Letaknya yang strategis di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, menjadikan bunker ini sebagai harapan bagi mereka yang tinggal dan beraktivitas di zona merah Merapi. Proses pembangunannya berlangsung sekitar dua tahun, dengan harapan mampu menahan terjangan material vulkanik dan awan panas yang mematikan.

Tragedi 14 Juni 2006: Ketika Harapan Berubah Menjadi Duka

Pagi itu, status Gunung Merapi baru saja diturunkan dari Awas menjadi Siaga. Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD DIY yang akrab dipanggil Romo Itonk sedang berada di warung sebelah timur Bunker Kaliadem ketika tiba-tiba Merapi mengeluarkan awan panas atau "wedhus gembel" yang mengerikan. Awan panas dengan suhu mencapai 600 derajat Celsius bergerak dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam, menyapu bersih segala yang dilaluinya. Material vulkanik panas menutupi seluruh bangunan bunker, menjebak dua orang relawan yang berlindung di dalamnya. Romo Itonk yang sempat mencoba mendekati bunker setelah kejadian harus mundur. "Tangki air dari fiber meleleh, kan panas banget berarti. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi ke sana, kami balik", kenangnya.

Evakuasi yang Menyakitkan

Proses evakuasi kedua korban sangat sulit karena bunker tertutup material erupsi yang masih sangat panas, sekitar 300 derajat Celsius. Tim harus menggali sedikit demi sedikit untuk menemukan tangga masuk bunker. Sekop-sekop yang digunakan melengkung karena panasnya suhu material, sehingga evakuasi akhirnya dilakukan dengan alat berat.

Kedua relawan ditemukan di dalam toilet bunker, dalam kondisi meninggal dunia. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang kehilangan nyawa saat berupaya membantu masyarakat. Tragedi ini menjadi salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah erupsi Gunung Merapi.